EKSPLORASI TERNAK : Mengupas Pesona Ayam Lokal di Tanah Ciung Wanara

Ternak lokal merupakan plasma nutfah Indonesia yang harus dijaga kelestariannya. Peran dari Pemerintah, Instansi dan juga masyarakat sangat menentukan produktivitas dan pertumbuhan dari hewan ternak. Salah satu peran dari Pemerintah adalah mengadakan pembudidayaan secara intensif agar menjaga hewan tersebut tidak punah atau hilang dari peradaban seperti yang telah dilakukan oleh Balitnak Ciawi. Ternak lokal seperti Ayam Sentul merupakan plasma nutfah unggul yang ada di wilayah Jawa Barat, khususnya Ciamis. Ciamis adalah sentra penyebaran dari ayam sentul itu sendiri, bermula dari sejarah yang menyebutkan bahwa ayam sentul merupakan ayam peninggalan dari Satria Ciung Wanara.

Berdasarkan cerita rakyat setempat, pada waktu dilahirkannya Ciung Wanara, ia dihanyutkan ke sungai Citanduy karena bukan Putra dari Raja Galuh yang sah. Sewaktu dihanyutkan, dibekalilah 2 butir telur ayam yang nantinya cikal bakal menjadi ayam sentul. Setelah itu, ditemukan oleh kakek dan nenek lalu mengurus Ciung Wanara dan menetaskan telur ayam tersebut di daerah Naga Wiru (Ciamis Sekarang). Setelah menetas, diantara 2 ekor ayam tersebut, satu diantaranya terdapat ayam Sentul jantan dengan warna bulu “Jalak Harupat” atau abu-abu. Nama Sentul dari ayam sentul sendiri berasal dari warna bulu abu-abu kekuningan seperti buah kecapi (Sentul). Ayam ini selalu memenangkan kontes ketangkasan ayam, dan menarik perhatian raja Galuh untuk bertanding dengan ayam miliknya dengan taruhan sebagian wilayah kerajaan Galuh. Akhirnya Ciung Wanara menang dan mendapat sebagian wilayah Galuh sehingga mengantarkannya menjadi seorang raja.

Hasil dari pemantauan lapang yang telah dilakukan, pada tanggal 26 Juni sampai 29 Juni 2016 disalah satu tempat kelompok tani ternak yaitu Barokah Abadi Farm milik Mas Fahni Ahmad Fatoni. Team telah melakukan uji Morfometrik dan membandingkan dengan empat sampel ayam dengan warna yang berbeda dan dengan umur yang sama. Menggunakan beberapa parameter yang dilakukan seperti bobot ayam, panjang punggung, panjang dada, rentang sayap, panjang shank, lingkar shank, panjang femur, panjang tibia, panjang maxilla, panjang jari ketiga dan warna bulu. Pada bobot ayam rentang antara 600 gram sampai 800 gram memiliki hampir kesamaan ukuran pada parameter yang diujikan. Hal yang membedakan adalah dari pola warna bulu.

Selain uji Morfometrik, kita juga melakukan pendekatan secara langsung kepada masyarakat tentang pengetahuan sejarah dari ayam sentul. Kepada Mas Fahni juga kita melakukan beberapa wawancara mengenai kondisi sosial yang melingkupi internal dan eksternal, pada bagian pemasaran, pembibitan dan kesehatan. Selain itu latar belakang atau sejarah pembentukan organisasi Kelompok Tani Ternak milik mas Fahni yang dulunya diketuai oleh bapak Edi Diana. Bapak Edi Diana dan Mas Fahni merupakan orang yang bertanggung jawab atas pencegahan terjadinya kepunahan pada ayam Sentul. Pada tahun 2007 ayam Sentul sudah terdaftar kedalam hewan yang hampir punah karena jumlah dan penangkapan liar yang tidak terkontrol. Menurut Mas Fahni, pada tahun 2001 mereka telah melakukan pembudidayaan ayam Sentul secara intensif bersama kakaknya (Bapak Edi), guna menyelamatkan spesies yang terancam punah ini dimana diketahui, ayam Sentul merupakan ayam jenis Dwiguna (pedaging dan petelur) dan merupakan icon dari kota Ciamis.

 

Dimas Nurhadi (D14130038)1 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *