Sapi Pesisir : Eksotisme di Pesisir Pantai

sisir

     Sapi Pesisir merupakan salah satu rumpun sapi lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli dan telah beradaptasi dengan baik di daerah pesisir pantai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Masyarakat  Sumatera Barat menyebut sapi lokal pesisir dengan nama lokal, misalnya jawi ratuih atau bantiang ratuih, yang artinya sapi yang melahirkan banyak anak.

     Sapi Pesisir berasal dari keturunan sapi Zebu dan banteng yang telah dijinakkan, memiliki ukuran tubuh yang relatif kecil dengan warna yang beragam. Sapi pesisir mempunyai ciri khas yang tidak dimiliki oleh sapi dari bangsa lainnnya dan merupakan sumber daya genetik ternak Indonesia yang perlu dijaga dan dipelihara kelestariannya sehingga dapat memberikan manfaat dalam peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia.

Ciri Spesifik Sifat Kualitatif:

  • Warna : Tubuh dominan merah bata dengan variasi warna dari kekuningan, kecokelatan, sampai kehitaman.
  • Kepala: bulu mata berwarna pirang.
  • Garis punggung cokelat kehitaman.
  • Kaki keputih-putihan.
  • Ekor: rambut ekor berwarna hitam.
  • Bentuk tubuh kecil, mempunyai gumba dan gelambir kecil.
  • Bentuk tanduk kecil.

Ciri Spesifik Sifat Kuantitatif: 

     Sapi Pesisir dewasa memiliki tubuh yang relatif kecil dibandingkan dengan janis sapi lokal lainnya. Tidak percaya??

Tinggi pundak :

  • Jantan 99,9±4,9 cm
  • Betina 99,2±3,3 cm

Panjang badan :

  • Jantan 112,2±9,8 cm
  • Betina 109,4±6,7 cm

     Meskipun tergolong sapi kecil, sapi Pesisir memiliki persentase karkas cukup tinggi. Persentase karkas sapi Pesisir 49-60%, hampir sama dengan persentase dari karkas sapi Bali (56.9%). Persentase karkas tersebut menunjukkan kemampuan daging sapi Pesisir cukup baik. Selain itu, daya tahan hidup sapi Pesisir tinggi (85%) karena kemampuan adaptasinya yang baik. Kelebihan lain dari sapi pesisir yaitu mampu mengkonsumsi serat kasar tinggi, bisa bertahan hidup dengan nutrisi kurang, beradaptasi dengan lingkungan tropis, tahan terhadap penyakit tropis dan temperamen jinak sehingga lebih mudah dikendalikan dalam pemeliharaan.

Sumber : http://bibit.ditjennak.pertanian.go.id/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *