Mahasiswa dan SPR : apa peranmu, mahasiswa?

oleh : M Sirajatun Kurniawan

DSC_0702

Ketua HIMAPROTER 2015-2016

Haiii semua! Himaproter Cerdas kembali hadir nih. Kali inii kita akan membahas tentang Sekolah Peternakan Rakyat. Apa itu Sekolah Peternakan Rakyat? Apa dampaknya untuk peternakan rakyat? Yuk disimiak!

     Pelaksanaan Sentra Peternakan Rakyat atau Sekolah Peternakan Rakyat sudah mulai didirikan sejak Januari 2016. Sentra peternakan yang akan dibangun sebanyak 50 titik. Saat ini konsep SPR sudah diterapkan di daerah Sumatra Selatan, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Bojonegoro, Kalimantan Selatan, dan Sumenep. Daerah yang salah satunya sedang dalam tahap perintisan ialah pada kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya.

        Menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan hewan, Profesor Muladno, mengatakan bahwa sudah mulai terbangun struktur populasi ternak. Terdata pula secara rinci berapa usia ternak atau jumlah indukannya. SPR (Sekolah Peternakan Rakyat) juga mendeteksi secara jelas berapa peternak yang memiliki lahan untuk pakan dan berapa yang akan dijual atau dipotong. Profesor Muladno menambahkan bahwa setiap SPR minimal memiliki seribu sapi dan itu semua terdata. Tidak ada pembelian ataupun pengadaan bibit di lokasi SPR, namun dengan mengoptimalkan potensi ternak yang sudah ada di masyarakat lokasi SPR. Kemudian peternaknya akan dibina, ditingkatkan pengetahuan dan kemampuan manajemennya. Profesor Muladno mengatakan bahwa pemerintah juga akan mengalokasikan minimal Rp 1 miliar untuk satu lokasi SPR.

            Pengoptimalan potensi ternak lokal yang sudah ada di masyarakat merupakan suatu gagasan yang brilian. Strategi ini merupakan langkah awal dalam memperbanyak populasi ternak, dalam hal ini sapi pedaging. Pembinaan peternak melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam memelihara ternak berdasarkan Good Farming Practice merupakan langkah memperbaiki performa sapi pedaging sehingga didapatkan sapi pedaging yang memiliki pertambahan bobot badan yang tinggi, kualitas daging yang bagus dan memiliki nilai jual yang dapat bersaing.

            Konsep SPR yang sejatinya lahir dari kampus IPB ini sangat membutuhkan perhatian yang lebih dari kalangan mahasiswa IPB, terutama mahasiswa Fakultas Peternakan IPB. Sebagai akademisi peternakan harus sadar betul bahwa kekuatan inti peternakan terletak di tangan rakyat. Menurut data Dirjen PKH menunjukan sekitar 98% populasi ternak lokal berada di kalangan rakyat. Sementara data lain menyebutkan hanya sebanyak 20% kegiatan beternak berorientasi pada bisnis dan sisanya ebanyak 80% hanya beternak secara asal-asalan.

            Mahasiswa peternakan harus segera membuka mata bahwa kondisi di lapangan menunjukan bahwa masih banyak peternak rakyat yang menelantarkan ternaknya. Masih banyak pula petani atau peternak rakyat yang membakar limbah-limbah pertanian dan selalu mengeluh kekurangan pakan. Dalam segi manajemen, peternak rakyat belum memiliki perencanaan yang baik dalam beternak sehingga tidak mempuyai daya saing. Tetapi dari semua fakta yang tidak enak tersebut, peternak rakyat merupakan tulang punggung bangsa dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani.

            Dukungan dari mahasiswa peternakan terhadap konsep SPR ini sangat dibutuhkan. Sebagai agent of change harus melibatkan diri dalam pembangunan peternakan berbasis kekuatan rakyat. Keterlibatan mahasiswa dapat diawali dengan berinteraksi secara intens dengan peternak rakyat, mendengarkan keluhan mereka, dan mencoba bersama-sama mencari solusi atas masalah yang ada di lapangan. Kondisi saat ini yang terjadi yaitu kurang dekatnya mahasiswa dengan peternak. Mahasiswa sekarang terlalu sibuk untuk mengejar indeks prestasi yang mengakibatkan ketidakpekaan pada lingkungan sekitar, dalam hal ini mengenai kondisi peternak rakyat. Padahal dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan tinggi, tertulis mengenai pengabdian. Jadi sebenarnya mahasiswa dituntut untuk turut andil mengabdikan diri kepada rakyat berdasarkan bidang keilmuan yang dimiliki.

            Organisasi mahasiswa seperti Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ), Himpunan profesi mahasiswa, atau organisasi sejenis di tingkat kemahasiswaan memiliki peran vital dalam mendukung tumbuh kembangnya peternakan rakyat. Organisasi – organisasi tersebut harus menjadi penggerak utama bagi para mahasiswa agar memiliki rasa peduli kepada peternak rakyat. Tidak hanya sebatas rasa peduli, namu juga ksi nyata dalam rangka mendukung majunya peternak rakyat juga perlu diadakan. Misalnya melalui BEM bisa melakukan pencerdasan mengenai peternakan rakyat atau konsep SPR melaui berbagai media seperti koran kampus, media online, pamflet, dan lain sebagainya. Tidak lupa pula kita harus mengangkat moral dan semangat peternak rakyat dengan cara menyadarkan bahwa para peternak rakyat merupakan tumpuan utama peternakan Indonesia. Sementara itu,  melalui himpunan profesi atau organisasi yang berfokus pada keilmuan dan profesi bisa membagi ilmu yang sudah didapat di dalam perkuliahan dan praktikum kepada peternak rakyat. Misalnya dalam pembuatan pakan ternak yang ekonomis, pengenalan obat-obatan dan berbagai jenis penyakit, atau manajemen lingkungan yang baik bagi kenyamanan ternak.

            Membangun kepedulian terhadap sesuatu memang bukan perkara mudah, tetapi memang harus diniatkan di dalam hati. Saya teringat pada ucapan dosen Sosiologi Umum saat tingkat persiapan bersama, bahwa fasilitas belajar di kampus negeri sebagian dari pembayaran pajak hasil jerih payah rakyat. Jadi sudah selayaknya kita sebagai mahasiswa yang memiliki rasa empati kepada rakyat atau dalam konteks ini adalah peternak rakyat. Bukan tidak mungkin suatu saat melalui kolaborasi mahasiswa peternakan dan peternak rakyat yang masif mampu “memerdekakan” Indonesia dari ketergantungan daging sapi dari negara lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *