Tiga Bulan Ku Panen Ayam Kampungku

Yuni Nur Raifah (IPTP 50)

Ayam kampung adalah ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang telah berhasil dijinakkan. Akibat dari proses evolusi dan domestikasi, maka terciptalah ayam kampung yang telah beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya, sehingga lebih tahan terhadap penyakit dan cuaca dibandingkan dengan ayam ras (Sarwono 1991). Penyebaran ayam kampung hampir merata di seluruh pelosok tanah air. Salah satu ciri ayam kampung adalah sifat genetiknya yang tidak seragam. Warna bulu, ukuran tubuh dan kemampuan produksinya tidak sama merupakan cermin dari keragaman genetiknya. Disamping itu badan ayam kampung kecil, mirip dengan badan ayam ras petelur tipe ringan (Rasyaf 1998).

Usaha ayam kampung merupakan usaha yang menjanjikan untuk dikembangkan. Rasa khas pada ayam kampung merupakan kelebihan dari produk ayam kampung. Produk ayam kampung dan olahan daging ayam kampung sangat disukai masyarakat Indonesia. kelemahan dalam pemeliharaan ayam kampung ini adalah umur panen yang lama. Pada peternakan tradisional di masyarakat ayam kampung di ternakan secara ekstensif. Hal ini akan membuat pergerakan ayam sangat luas, sehingga energi yang berasal dari pakan tidak digunakan secara maksimal dalam pembentukan daging. Selain hal tersebut, ayam yang dibiarkan berkeliaran akan memakan segala pkaan yang ada dilingkungan tersebut, hal ini akan memberikan dampak negatif apabila ayam memakan makanan yang berbahaya sehingga akan berefek pada kandungan dalam daging.

Oke, sekilas tentang ayam kampung dan budaya peternakan ayam kampung ekstensif. Mari kita belajar beternak ayam kampung yang lebih efisien, praktis dan mudah. Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman yang telah saya lakukan dengan masyarakat Jlamprang, Leksono, Wonosobo. Di desa ini kami mengembangkan ayam kampung yang panen dalam waktu 3 bulan. Berdasarkan pengalaman warga sekitar, membutuhkan waktu 1 tahun untuk memanen ayam kampung siap jual (Jago). Hal ini membutuhkan waktu yang lama untuk perputaran modal dan pengembalian modal awal. Disisi lain peternakan seperti ini akan membuang waktu yang lama. Berdasarkan hal tersebut, saya dan masyarakat desa Jlampang berinisiatif untuk mengembangkan ayam kampung yang panen dalam waktu 3 bulan. Ayam kampung yang panen dalam waktu 3 bulan ini diternakan secara intensif, dengan pengawasan terhadap pakan, dan pemberian probotik serta rempah-rempah pada minum dan pakannya. Sebelum beternak ayam kampung ini, saya dan warga sekitar menanam rempah-rempah pada tanah kosong seperti pada pinggiran jalanan disawah, tanah samping rumah, dan juga pada pot tanaman. Adapun rempah-rempah yang kami tanam yaitu temulawak, jahe, kencur, kunyit dan kapulaga. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi biaya terhadap pemberian rempah-rempah pada ayam kampung.

Ayam kampung apa yang digunakan pada ayam kampung panen 3 bulan ini?

Pada saat memulai peternakan ayam kampung ini kami menggunakan anak ayam kampung biasa yang di hasilkan dari ayam kampung di desa ini. Pemilihan terhadap DOC ayam kampung ini yaitu dipilih yang sehat, lincah dalam pergerakan, mata yang cerah dan bulu yang merata. Tidak ada syarat khusus pada pemilihan bibit ayam kampung ini, kami hanya memilih ayam kampung yang sehat secara fisik dan tidak cacat.

Bagaimana dengan manajemen pemeliharaan dan perkandangan?

Perkandangan yang dilakukan yaitu dengan menggunakan kandang postal. Ayam bebas bergerak tetapi masih dalam kandangnya. Kandang ayam dilengkapi dengan kayu untuk bertengger. Karena bertengger merupakan cara dan kebiasaan ayam kampung untuk beristirahat. Volume Kandang ayam dibuat dengan mengutamakan kenyamanan dan keamanan. Hal ini akan mencegah ayam dari stress. Untuk itu perlu pengaturan populasi dalam satu luasan kandang berdasarkan jumlah dan tingkatan umur. Berdasarkan tingkatan umur dan jumlah pengaturan pengandangan dapat dilakukan seperti berikut Untuk ayam pada periode starter dapat ditempatkan sebanyak 30 ekor pada kandang dengan luas 100 cm x 100 cm x 40 cm. Untuk ayam pada periode grower dapat ditempatkan sebanyak 15 ekor pada kandang dengan ukuran 100 cm x 100 cm x 60 cm.

Manajemen pemeliharaan pada ayam kampung panen 3 bulan ini sama dengan pemeliharaan intensif pada ayam petelur. Semua aspek pada peternakan ayam ini sama dengan peternakan ayam intensif pada umumnya. Pembedanya adalah pemberian rempah-rempah, probiotik dan pakan. Kunci dari peternakan ini adalah pada rempah-rempah, probiotik yang ditambahkan serta manajemen pemberian pakannya. Adapun penjelasannya yaitu ayam DOC diberikan pakan berupa pakan starter dengan takaran sama dengan takaran pemberian pakan pada broiler. Pakan diberikan 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang dan sore. Air minum harus selalu ada pada kandang. Air minum yang diberikan ditambahkan probiotik ( nama merek tertentu, probiotik ini dibuat dari hasil samping buangan wallet yang terdapat pada gua-gua. Probiotik ini terbuat dari bahan alami dan sudah terbukti mampu mempermudah penyerapan nutrisi pakan kedalam tubuh ayam, mengurangi bau pada ekskreta ayam dan memberikan efek kenyal pada daging ayam kampung serta terbebas dari cemaran berbahaya). Sebenarnya probiotik didalam pasar itu banyak macamnya hanya saja sebagai konsumen pilihlah probiotik yang menurut kita terbukti khasiatnya.

Adapaun kita bisa membuat sendiri probiotik yang dapat kita racik. Pemberian minum pada ayam kampung ditambahkan probiotik, rempah-rempah yang sudah ditumbuk dan diberikan sedikit air. Rempah-rempah yang digunakan yaitu temulawak, kunyit, kapulaga, kencur, jahe dan ramuan pembuat jamu. Campur air, probiotik dan air dari rempah-rempah kemudian diberikan pada ayam kampung. Setelah berumur 1,5 bulan ayam diberikan pakan grower dan ditambahkan dengan pakan lainnya. Diselingi dengan pakan dedak padi, nasi sisa ataupun sedikit hijauan yang diberikan secara semi basah.

Pemeliharaan seperti ini dilakukan selama 3 bulan dengan memperhatikan lingkungan dan kesehatan ayam. Untuk pemeliharaan terhadap lingkungan dan kesehatan ayam sama dengan pemeliharaan pada umumnya. Inilah sedikit pengetahuan mengenai ayam kampung. Dari cerita singkat ini saya hanya ingin menceritakan bahawasannya ayam lokal kita dari Indonesia mampu bersaing dipasar. Kita memiliki sumber daya yang memiliki keunikan dan ciri khas, kekurangan dari ayam kita sudah bisa sedikit teratasi. Dengan adanya ayam kampung panen 3 bulan ini saya harap akan ada pengembangan uasaha ayam kampung yang lebih besar dalam skala industri.

Kita dapat menciptakan produk ayam kampung yang dapat bersaing dalam pasar Internasional. Perkenalkan Indonesia dengan karya terbaikmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *