AHOOY FACT – 8 FAKTA MENARIK TENTANG JANGKRIK

Jangkrik adalah salah satu serangga yang dapat kita temui di lingkungan sekitar dengan mudah. Hampir seluruh orang mengenal dan tahu tentang hewan satu ini. Tetapi, apakah kamu tahu beberapa fakta menarik tentang jangkrik berikut ini?

Jangkrik merupakan serangga yang paling ahli mengeluarkan bunyi.

Suara-suara yang dapat dikeluarkan oleh jangkrik itu sangat beragam sesuai dengan tujuannya masing-masing. Misalnya, ketika saat mencari pasangan, jangkrik akan menarik perhatian betina dengan suaranya. Saat si betina mendekat, suara yang dikeluarkan jangkrik akan berbeda lagi dengan tujuan untuk menunjukkan dia adalah jantan jangkrik terbaik. Jika si betina menerima si jantan, maka jantan tersebut akan “menyanyikan” lagu untuk mengumumkan “ikatan” mereka. Selain untuk menarik lawan jenis, suara jangkrik jantan juga mengeluarkan suara untuk mempertahankan daerah kekuasaannya. Setiap jangkrik pun menghasilkan suara yang berbeda, dengan volume dan nada yang unik.

Jangkrik merupakan saudaranya tonggeret.

Jangkrik masuk ke dalam ordo Orthoptera, dalam ordo ini terdapat belalang, dan tonggeret. Jangkrik dan Tonggeret keduanya sama-sama memiliki antena dan ovipositors yang panjang dan pemakan tumbuhan dan mengeluarkan bunyi dengan cara yang sama. Tonggeret hanya berbunyi pada siang hari. Sedangkan jangkrik berbunyi pada pergantian antara sore ke malam hari.

Bunyi jangkrik jantan berasal dari gesekan sayap-sayapnya.

Suara jangkrik dihasilkan oleh gesekan sayap-sayapnya. Salah satu sayap jangkrik tepinya bergerigi yang lainnya datar, gesekan antara sayap tersebut akan mengeluarkan suara yang diperkuat oleh membran tipis sayap sehingga menghasilkan bunyi yang keras.

Jangkrik merupakan sumber makanan yang bergizi.

Entomophagy atau praktek memakan serangga telah menjadi kebiasaan di beberapa negara. Penduduk Thailand, Vietnam termasuk Indonesia mempunyai kebiasaan memakan serangga. Jangkrik tinggi kandungan protein dan kalsium, dalam 100 gram jangkrik terdapat 13 gram protein dan 76 mg kalsium.

Telinga Jangkrik terletak di kaki depannya.

Organ pendengaran jangkrik terletak pada kaki depannya berupa lekukan berbentuk lonjong yang disebut organ timpani. Saat gelombang suara melewatinya organ ini akan bergetar. Getaran ini dirasakan oleh organ khusus yang disebut chordotonal, yang mengubah suaranya menjadi impuls saraf sehingga jangkrik bisa memahami apa yang didengarnya.

Jangkrik bisa menjadi inang bagi rumah lalat parasit.

Meskipun kemampuan mendengar jangkrik dapat melindunginya dengan baik dari musuhnya, jangkrik tidak mempunyai perlindungan dari lalat parasit. Lalat parasit mempunyai kemampuan menemukan letak jangkrik dari suaranya. Saat jangkrik diam, lalat akan mendekati jangkrik yang tidak menaruh curiga. Lalat parasit kemudian akan menyimpan telurnya di jangkrik. Saat larva lalat parasit menetas, mereka akan memakan si jangkrik tersebut.

Suhu udara dapat diukur dengan suara jangkrik.

Profesor Amos E. Dolbear mengamati hubungan antara jumlah bunyi krik jangkrik dan suhu udara disekitarnya. Pada tahun 1897 dia menerbitkan makalah “The Cricket as a Thermometer” yang berisi persamaan matematika yang disebut Hukum Dolbear.

Sistem pernafasan jangrik tidak hanya melalui trakea.

Sistem pernafasan jangkrik terdiri dari spirakel, trakea, dan trakeola. Seperti halnya hidung, spirakel terletak di luar tubuh. Bentuknya menyerupai lubang kecil yang menghubungkan langsung ke trakea. Spirakel akan membuka jika karbondioksida memenuhi ruang tubuh jangkrik. Saat itu, karbondioksida akan keluar melalui spirakel. Kemudian, terjadilah pertukaran udara, yaitu oksigen masuk ke dalam tubuh jangkrik.